Wednesday, April 2, 2008

ubi jalar-manis bisnisnya


Maret 2007 Eddy Prijono pensiun pada usia 53 tahun. Alih-alih kesibukannya berkurang, justru kian meningkat. Mantan karyawan Telkom itu kini rutin memasok pasar swalayan dan produsen olahan ubijalar, 4-5 ton per bulan dengan harga Rp8.700 per kg. Eddy meraup omzet Rp43-juta per bulan. Pendapatan itu jauh lebih besar ketimbang saat ia bekerja sebagai karyawan di perusahaan plat merah itu.

Eddy Prijono hanya memasok ubijalar cilembu yang manis legit. Ubijalar itu dikembangkan di Kecamatan Pamulihan, Rancakalong, dan Tanjungsari, semuanya di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Hasil panen para pekebun ia beli seharga Rp4.000-Rp5.000 per kg. Satu kg terdiri atas 2-3 umbi. Anggota famili Convolvulaceae itu lantas dikirim ke produsen penganan di Jawa Timur dan Malang. Eddy memperoleh harga Rp8.700 per kg, termasuk ongkos kirim dari Sumedang ke Surabaya. Menurut Eddy biaya pengiriman mencapai Rp300 per kg.
Laba bersih yang diterima pria kelahiran 1954 itu Rp3.400 per kg atau total Rp13-juta per bulan. 'Di Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak ada ubi cilembu,' katanya. Itu peluang baginya. Oleh karena itu saat masih menjadi karyawan Telkom Bandung ia merintis pasar, pada 1998. Setiap kali berdinas ke Surabaya atau Malang, mobilnya dipenuhi ubijalar: ada yang matang, tetapi sebagian besar mentah. Ia menawarkan kepada pasar swalayan dan produsen penganan. Kebetulan pada 2004 Eddy dipindahtugaskan ke Surabaya. Ia semakin leluasa berbisnis umbi kerabat kangkung itu.

Saat ini volume pasokan berkisar 4-5 ton per bulan. Salah satu produsen penganan berbahan baku ubijalar adalah Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT) Malang yang mengelola Bakpao Telo. 'Setiap bulan perusahaan itu memerlukan 4 ton telo alias ubijalar sebagai bahan baku bakpao', katanya.
Semua pasokan mengandalkan produksi para pekebun yang dibinanya sejak 10 tahun lampau. Eddy menerima seluruh panen pekebun dengan syarat: umbi sehat, bebas serangan hama dan penyakit, warna kulit kuning gading, berurat, diameter sekitar 7 cm, dan bentuknya lurus.
Dengan sistem kemitraan itu, pekebun juga merasa untung. Menurut Maman Rukmana, pekebun ubijalar di Kecamatan Pamulihan, Sumedang, biaya untuk memproduksi 1 kg ubijalar cilembu hanya Rp1.500. Artinya, jika Eddy membelinya Rp5.000, pekebun plasma memperoleh laba Rp3.500/kg. 'Keuntungannya masih cukup tinggi,' kata Maman. Harga stabil
Maman membudidayakan ubijalar di lahan 1.000 m2, warisan orangtuanya. Hasilnya 1,2 ton tandas diborong pedagang. Harganya pun stabil, tak seperti sayuran lain yang harganya anjlok ketika produksi melimpah di pasaran.

Sedikit demi sedikit lahan Maman bertambah seiring meningkatnya pamor ubi cilembu. Kini luas lahannya mencapai 1 ha. Dengan jarak tanam 10 cm x 15 cm, total ada sekitar 600.000 tanaman di lahan seluas itu. Dalam 4 bulan Maman akan memanen 12 ton ubijalar.
Saat ini total permintaan setiap minggu mencapai 9 ton. Permintaan datang dari eksportir di Jakarta dan pengepul di Surabaya. Sayang, Maman baru sanggup memenuhi 3,5 ton saja. 'Itu pun sudah bekerja sama dengan pekebun lain,' kata Maman. Karena jika mengandalkan hasil panen sendiri, tentu tidak akan mampu memenuhi banyaknya permintaan.
Salah satu pekebun mitra adalah Ayit di Rancakalong, Sumedang. Pria 39 tahun itu sebelumnya hanya menanam padi. Karena kerap merugi ketika harga anjlok, ia beralih mengebunkan ubijalar. Ubijalar dibudidayakan di lahan 2.000 m2. Dari lahan seluas itu, Ayit memanen 2-2,5 ton.
Dengan harga jual Rp3.000/kg, pria yang berkebun sejak 1990-an itu memperoleh omzet Rp6-juta-Rp7,5-juta per musim tanam. Setelah dikurangi biaya produksi Rp3,5-juta, Ayit mengutip laba bersih Rp2,5-juta-Rp4-juta per musim tanam atau Rp625.000-Rp1,8-juta/bulan.Sarat gizi
Ubijalar kerap dipandang sebagai penganan kelas 2. Padahal, sebetulnya umbi itu kaya gizi. Berdasarkan hasil analisis Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Universitas Pasundan dan Fakultas Pertanian Universitas Winayamukti, Bandung, ubijalar mengandung 60,72% karbohidrat, 1,4% protein, 0,7% lemak, 14,16% gula total, 8,47% sukrosa 80 mg/100 gram vitamin C, 0,4 mg/100 gram riboflavin, 0,6 mg/100 gram niacin, dan 0,1 mg/100 gram tanin.
Dengan diolah menjadi penganan eksklusif, masyarakat pun tak sungkan mengkonsumsinya. Apalagi khasiatnya juga beragam. Oleh karena itu permintaan terhadap ubijalar pun meningkat. Bahkan, ubijalar Cilembu kini masuk pasar mancanegara. Sejak 2003 Singapura dan Jepang meminta pasokan boled-sebutan ubijalar di tanah Sunda. Singapura minta dipasok minimal 3 ton per minggu, sedangkan Jepang 12 ton per 2 minggu.
Jenis yang diminta tak hanya cilembu, tapi juga ubijalar lain seperti marasaki yang berwarna ungu. Sumaji, misalnya setiap hari harus keliling kampung di Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur, untuk mencari pekebun yang tengah panen marasaki. Sehari ia harus memperoleh 1-2 ton ubijalar untuk memenuhi permintaan pedagang dan pabrik. Dengan harga jual Rp1.300 per kg, setidaknya omzet Rp1.300.000 memenuhi pundi-pundi kantongnya setiap hari. Sumaji mengutip Rp300/kg, sehingga pendapatan bersihnya Rp9-juta per bulan.
Permintaan juga datang dari daerah lain seperti Bandung, Jakarta, sampai Sumatera yang mencapai lebih dari 50 ton per bulan. Itu belum termasuk permintaan dari pabrik getuk di Malang yang minta dikirim 100 ton per 6 bulan. Karena itu ia juga menampung hasil panen pekebun di Pacet, Trawas-keduanya di Mojokerto-Blitar, dan Dampit. Ubi yang ditampung harus bebas hama penyakit dan berukuran minimal 200 gram. Pewarna
Manisnya bisnis ubijalar bukan berarti tanpa kendala. Jika penanaman dilakukan pada musim pancaroba, ubi rentan terserang hama lanas. Lanas hama yang paling banyak menyerang ubijalar. Serangan hama itu mampu menyebabkan kerugian bagi pekebun ubi. Maman misalnya, pada Juni 2006 rugi sampai Rp17-juta akibat serangan hama itu. Gawatnya lagi, hama itu belum ditemukan cara pengendaliannya.
Padahal bila hambatan teratasi, pasar ubijalar terbuka. Tak hanya pasar domestik, tapi juga pasar ekspor. Misalnya Luki Budiarti, eksportir di Malang. Sejak 2002 ia memasarkan marasaki ke Okinawa, Jepang. Kebetulan teman dari rekan bisnis Luki sedang mencari ubi untuk diolah di Jepang. Yang dicari adalah ubijalar ungu yang sudah matang. Selain sebagai bahan penganan, ubi itu juga dijadikan sebagai zat pewarna makanan.

Awalnya Luki hanya sanggup mengirim 2 kali dalam setahun, masing-masing 15 ton sekali kirim. 'Barangnya masih belum banyak,' kata Luki. Pada 2004 ia mulai bisa mengirim ubi setahun 3-4 kontainer berkapasitas 26 ton. Bahkan pada 2007 lalu, ia mampu mengirim lebih dari 4 kontainer. Dengan harga jual Rp9.000 per kg, setidaknya pendapatan tiap kontainer mencapai Rp250-juta. Luki pun mengakui manisnya keuntungan dari ubi manis.

source : trubus (Lani Marliani/Peliput: Nesia Artdiyasa)

4 comments:

Celulite said...

Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the Celulite, I hope you enjoy. The address is http://eliminando-a-celulite.blogspot.com. A hug.

omyosa said...

agriculture regarded as a bussiness,
jika kita peduli dengan pengangguran di pedesaan,

“MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA”

Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia.
NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) hingga sekarang.
Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an. Capaian produksi padi saat itu bisa 6 -- 8 ton/hektar.

Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin rusak, semakin keras dan menjadi tidak subur lagi. Sawah-sawah kita sejak 1990 hingga sekarang telah mengalami penurunan produksi yang sangat luar biasa dan hasil akhir yang tercatat rata-rata nasional hanya tinggal 3, 8 ton/hektar (statistik nasional 2010).

Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.

System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahun yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik.
SRI sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.

Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini.
Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

Kami tawarkan solusi yang lebih praktis yang perlu dipertimbangkan dan sangat mungkin untuk dapat diterima oleh masyarakat petani kita untuk dicoba, yaitu:

"BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB (SO/AVRON/NASA) + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS (EM16+), DENGAN SISTEM JAJAR GOROWO",

Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 100% — 400% dibanding pola tanam konvensional seperti sekarang.

Ditunggu komentarnya di omyosa@gmail.com, atau di 02137878827, 081310104072

omyosa said...

agriculture regarded as a bussiness,
jika kita peduli dengan pengangguran di pedesaan,

“MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA” (lanjutan)

• PUPUK ORGANIK AJAIB (SO/AVRON/NASA) merupakan pupuk organik lengkap yang memenuhi kebutuhan unsur hara makro dan mikro tanah dengan kandungan asam amino paling tinggi yang penggunaannya sangat mudah,
• sedangkan EM16+ merupakan cairan bakteri fermentasi generasi terakhir dari effective microorganism yang sudah sangat dikenal sebagai alat composer terbaik yang mampu mempercepat proses pengomposan dan mampu menyuburkan tanaman dan meremajakan/merehabilitasi tanah rusak akibat penggunan pupuk dan pestisida kimia yang tidak terkendali,
• sementara itu yang dimaksud sistem jajar gorowo adalah sistem penanaman padi yang diselang gorowo/alur/selokan/parit, bisa 2 padi selang 1 gorowo atau 4 padi selang 1 gorowo, dan
• yang paling penting dalam bertani pola gabungan ini adalah relative lebih murah.

CATATAN:

1. Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/ mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu ANDA MENJADI AGEN SOSIAL penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.

2. Cara bertani organik tidak saja hanya untuk budidaya tanaman padi sawah, tetapi bisa juga untuk berbagai produk-produk agro bisnis yang meliputi pertanian (padi, palawija, buah dan sayuran), perkebunan, perikanan, dan peternakan.


Hasil panen setelah menggunakan Pupuk Ajaib

Kesaksian untuk tanaman pertanian tanpa pestisida kimia, dan perangsang tumbuh tambahan lainnya :
* Cabe Organik bisa mencapai 6 kg/pohon, dan umur tanaman bisa sampai 3 tahun.
* Padi Organik bisa mencapai rata-rata 16—24 ton / hektar.
* Bawang Merah Organik bisa mencapai diatas 24--36 ton / hektar
* Jamur Tiram Organik bisa meningkat 300 %, dan bebas ulat !
* Bawang Daun Organik bisa mencapai rata-rata 1 kg/batang
* Kol Organik bisa mencapai rata-rata 5-8 kg/pohon
* Sawit sudah tidak produktif bisa kembali lagi produktif,

Kesaksian untuk hewan dan ikan tanpa vaksin, antibiotik, dan vitamin lainnya :
* Nila 3cm dirawat 2 minggu bisa sebesar umur 2 bulan padahal
* Bebek afkir biasanya telurnya 10% bisa meningkat jadi 50% lebih.
* Sapi beratnya meningkat di atas 1,5 kg/hari pakannya hanya rumput.
* Broiler bisa panen pada hari ke 28-29 berat 1,5-1,7 kg
* Pembibitan lele angka kematian bisa sampai pada 0%
* Budidaya belut bibit 3 bulan bisa mencapai berat 500 gram/ ekor
* Lele 5—7 cm bisa panen dalam waktu 29 hari

Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.

AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?

Anda siap menjadi donatur bagi pekerja sosial agen penyebaran informasi, atau Anda sendiri merangkap sebagai pekerja sosial agen penyebaran informasi itu dilokasi sekitar anda berada, atau pada wilayah yang lebih luas lagi diseluruh Indonesia?

Ditunggu komentarnya di omyosa@gmail.com, atau di 02137878827, 081310104072

drusable said...

bila ada yang baik hati mau bantu tolong konfirm di email saya ' idrus_nugraha@yahoo.com ' >